Tiket XXI Rp40.000, Tapi Bayarnya Bisa Rp98.000 -->

Iklan Semua Halaman

 

Tiket XXI Rp40.000, Tapi Bayarnya Bisa Rp98.000

Pusatserviceacbekasi
Rabu, 24 Juni 2026

Bukan karena sedang gabut, apalagi kekurangan hiburan. Semua bermula dari sebuah prestasi yang membanggakan.

Salah satu teman sekolah Caca berhasil meraih juara pertama dalam pentas seni sekolah dengan hadiah sebesar Rp750.000. Daripada dinikmati sendiri, orang tua sang juara memilih cara yang lebih berkesan. Uang hadiah itu digunakan untuk merayakan kemenangan bersama teman-teman sekelas.

Saya sempat berhitung.

"Kalau Rp750.000 dibagi 23 siswa, dapat berapa ya?"

Setelah dihitung-hitung, setiap anak memperoleh sekitar Rp32.000. Tentu jumlah itu belum cukup untuk kegiatan bersama, sehingga beberapa orang tua murid ikut menambahkan biaya agar acara bisa terlaksana dengan baik.

Akhirnya diputuskan: nonton bareng film Garuda di Dadaku yang sedang tayang di XXI.

Anak-anak langsung antusias. Maklum, bagi sebagian anak, menonton di bioskop bukanlah kegiatan rutin. Bahkan mungkin ada yang baru sekali ini merasakan pengalaman masuk ke XXI. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah, hiburan seperti ini menjadi pengalaman yang cukup istimewa.

Sesampainya di bioskop, kami langsung disambut aturan yang terpampang di pintu masuk.

"Makanan dan minuman dari luar harus dititipkan."

Baiklah, kami maklum. Toh di dalam tersedia berbagai pilihan makanan dan minuman.

Karena niat awalnya hanya ingin menemani anak-anak menonton, saya memilih paket yang menurut saya paling sederhana dan ekonomis: popcorn ukuran kecil dan sebotol air mineral.

Lalu saya melihat daftar harganya.

Popcorn ukuran kecil: Rp38.000.

Air mineral merek "LeMinho" (nama disamarkan karena belum dapat kontrak endorse): Rp20.000.

Saya terdiam sejenak.

Kalau dijumlahkan, harga jajanan itu mencapai Rp58.000.

Artinya, harga popcorn dan air mineral ternyata lebih mahal daripada harga tiket bioskop yang hanya sekitar Rp40.000.

Di situlah saya mulai memahami sesuatu.

Mungkin XXI sebenarnya tidak hanya menjual film.

Mereka menjual pengalaman.

Film menjadi pintu masuknya, sementara makanan dan minuman menjadi sumber pendapatan yang tak kalah penting. Harga tiket dibuat relatif terjangkau sehingga orang datang. Setelah berada di dalam, pilihan konsumen menjadi sangat terbatas, dan di situlah produk pendamping mengambil peran.

Dari sudut pandang bisnis, strategi ini cukup cerdas.

Di iklan online kita melihat tiket yang tampak murah. Namun ketika pengalaman menonton sudah dimulai, banyak pengunjung akhirnya membeli produk tambahan yang nilainya bahkan bisa melampaui harga tiket itu sendiri.

Saya tidak sedang mengkritik. Justru saya sedang belajar.

Kadang sebuah bisnis tidak memperoleh keuntungan terbesar dari produk utama yang terlihat di depan. Keuntungan terbesar justru datang dari produk pendamping yang tampak sederhana.

Dan sore itu, selain menemani anak-anak menikmati film, saya juga mendapat pelajaran gratis tentang strategi pemasaran.

Meski harus merogoh kocek lebih dalam untuk popcorn dan air mineral, melihat wajah-wajah ceria anak-anak yang menikmati hasil kebersamaan temannya membuat semuanya terasa sepadan.

Setidaknya hari itu saya pulang membawa dua hal: kenangan yang menyenangkan dan pelajaran bahwa dalam dunia bisnis, yang paling mahal belum tentu yang paling terlihat.